Wednesday, March 13, 2013

TEKAD YANG KUAT

Oscar Pistorius, seorang atlet tunadaksa pertama yang berkiprah di Olimpiade. Sejak 2007 ia sudah berniat untuk berlomba di Olimpiade Bejing 2008, namun gagal.  Pada 2011, ia mencatat waktu 45,07 detik untuk lari 400 meter.  Ia pun memperoleh tiket untuk mengikuti Kejuaraan Dunia 2011 dan Olimpiade 2012. Pada 4 Agustus 2012, Oscar, yang kedua kakinya diamputasi, menjadi atlet pertama yang mengenakan kaki palsu dalam pertandingan Olimpiade.  Ia disebut orang Blade Runner  karena kaki palsunya berbentuk bilah melengkung.
Di kelas Kumon anak-anak belajar juga dengan tujuan besar, mencapai level di atas tingkatan kelas.  Salah satu siswa, Khesya, kelas 1 SD, saat ini sudah belajar penjumlahan pecahan (level E).  Tekad  kuat membuatnya bertahan  ketika melewati kesulitan. Pernah satu kali saat mengerjakan perkalian susun di level  C, Khesya membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk 5 lembar. Karena program hari itu 10 lembar, ia tetap berusaha menyelesaikan 5 lembar berikutnya, walaupun sudah ditawarkan lembar kerja hari itu dikurangi saja. Saya tahu hal tersebut melelahkannya, tapi melihat semangatnya, hari itu saya mendampinginya sampai selesai. Khesya punya tekad kuat menyelesaikan tugasnya. Kita tidak bisa menduga ternyata ia mempunyai kekuatan besar yang muncul karena tekadnya itu. Saat memberikan materi baru sebagai PR kadang kami kuatir Khesya kesulitan di rumah dan kemudian menjadi tidak semangat.  Ternyata, menurut ibunya, justru Khesya selalu senang dan bangga saat PRnya sesuatu yang baru. Tantangan justru membakar semangatnya ! Siapa sangka, tekad kuat itu hadir pada seorang anak di usia sangat belia.
Seseorang yang bertekad besar untuk mencapai tujuan yang baik sebenarnya sudah meraih separuh kemenangannya. Jangan remehkan tekad dan semangat anak-anak untuk bisa mencapai level lebih tinggi lagi di Kumon…every student beyond grade level ! Ayo, kita mendukungnya…

Baca Selengkapnya....

Tuesday, February 12, 2013

"AKU BISA !"

Pernah dalam sebuah lomba renang saya menemui anak saya menangis karena gagal. Sebenarnya gagal dalam sebuah perlombaan bukan hal yang baru baginya, karena  mental sportifitasnya sudah terasah dengan baik. Namun kali itu ia menangis karena gagal melakukan yang terbaik.  Mengapa? Sebenanrya lomba itu bukan untuk perenang, tetapi penyelam. Dia gagal karena tidak bisa berenang dengan menggunakan snorkel.  Persiapannya tidak cukup dan ternyata peserta wajib menggunakannya.

Secara enteng, saya berkomentar,”Apa susahnya pakai snorkel, kan lebih enak, tidak perlu ambil nafas.” Namun setelah melihat bagaiamana yang seharusnya, barulah saya memahami kesulitannya. Anak-anak ini akan memakai snorkel-nya di atas saat start. Kemudian begitu mulai mereka melompat ke air secara otomatis pipa snorkel akan ikut terendam. Begitu mereka naik di permukaan, air di dalam pipa tersebut harus mereka semburkan terlebih dahulu supaya pipa kosong dan perenang atau tepatnya penyelam bisa leluasa berenang dengan bernafas melalui mulutnya. Itu satu kesulitan yang tak terbayangkan bagi saya yang sekedar “penonton” dan “komentator” di pinggir kolam.

Hal ini cukup menyentak diri saya, teringat bagaimana kita sebagai orangtua terkadang bersikap salah terhadap kesulitan belajar anak-anak. Di kelas Kumon, terkadang kita temui anak-anak yang kesulitan di level dasar yang mungkin bagi orang dewasa sesuatu yang sepele. Kita tidak bisa memahami kesulitannya, karena tidak berdiri pada posisi mereka. Begitu mudah bagi kita berkomentar ,”Apa susahnya?!”.  Dan sikap ini justru menjadikan mereka tidak termotivasi untuk mau berusaha lebih baik lagi.

Empati bisa timbul secara tulus, bila kita mau berdiri di tempat yang sama dengan anak-anak dan mengerti betul rasa sulitnya. Dengan demikian, kita dapat membantu mereka melewati kesuitannya. Pendampingan seperti ini akan jauh lebih berarti dibandingkan dengan sekedar komentar yang penuh kritikan.

Di kelas Kumon, pernah seorang siswa mengatakan, “Ibu, yang ini susah,” ketika ia mengerjakan hitungan pengurangan di level A. Saya tidak segera mengatakan bahwa sebenarnya itu mudah, tetapi hanya menjawab,”Oke, sekarang kerjakan saja soal yang menurutmu mudah. Begitu susah, nanti Ibu temani.” Ajaibnya, sampai selesai ia tidak menemui saya. Waktu akan pulang saya bertanya padanya,”Lho, mana tadi yang susah?” Dengan senyum siswa tersebut memnjawab,”Ternyata aku bisa.”

Saya yakin, sebenarnya siswa ini mampu menyelesaikan hitungan tersebut dengan baik. Namun ia merasa tenang ketika  saya sudah berjanji akan memenemaninya bila ia kesuitan. Rasa tenang ini membuatnya justru bisa melewatinya sendiri. Dan tentu saja hal ini memberikan sense of achievement baginya. Pelajaran berharga tentu saja. Saya ingin semua anak bisa mengalami dan merasakan kepuasan ini, rasa “aku bisa!”.

Baca Selengkapnya....
Kumon Candraloka on Facebook

discuss with student

discuss with student

Class of Kumon Candraloka

Class of Kumon Candraloka